Wednesday, January 20, 2016

PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN MASYARAKAT PERKOTAAN





Alfian Ragil Permadi
PP3 PGSD Offering K3 Universitas Negeri Malang
e-mail : n_gagil@ymail.com

ABSTRAK: Dewasa ini, pendidikan menjadi salah satu hal yang terpenting.(1) Tidak hanya pendidikan Informal, Formal tetapi pendidikan Non-Formal menjadi hal yang patut diperhitungkan.(2) Pendidikan Non-Formal ini adalah pendidikan yang terjadi di masyarakat dengan mengedepankan interaksi sosialnya.(3) Dengan pendidikan yang mengacu pada interaksi sosialnya, lingkungan tempat interaksi yang baik atau buruk akan berpengaruh seperti lingkungan kota yang banyak memiliki stresor.(4)


Kata Kunci: Pendidikan, Pendidikan Non-Formal, Interaksi Sosial, Kota.


Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang yang memiliki ilmu pengetahuan kepada anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak dapat hidup sebagai manusia dalam bermasyarakat tanpa perlu bantuan orang lain. Di sini pendidikan bisa didapat dari keluarga (informal), sekolah (formal) maupun masyarakat (non formal). Sebagaimana teori jika manusia tidak bisa hidup sendiri, bisa diperkirakan jika pendidikan non formal (masyarakat) akan cukup besar pengaruhnya. Dengan lingkungan bermasyarakat yang kondusif pastilah pendidikan di ruang lingkup lain akan membaik.
Masyarakat adalah tempat anak memperoleh pendidikan non formal. Di sini, anak akan melakukan interaksi dan meniru segala hal yang dilakukan masyarakat lingkungannya. Hal ini tentunya sangat baik ketika lingkungan hidup anak damai, tenteram dan terjadi banyak aktivitas bersama. Interaksi yang dilakukan anak ini akan menjadi pendidikan non formal sebagai pengalaman hidup anak di lingkungan masyarakat. Masyarakat tidak hanya sebagai pendidik tetapi juga sebagai petugas hukum untuk menegakkan aturan di lingkungan tersebut agar anak-anak mereka tidak menyimpang dan benar dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan anak. Sayangmya hal ini tidak selamanya terjadi sesuai harapan, yaitu ketika lingkungan hidup anak hanya terjadi sedikit aktivitas bersama atau lingkungannya kurang kondusif. Bisa dikatakan di lingkungan yang buruk, anak ketika masih kecil akan meniru perilaku orang dewasa yang negatif dan ketika besar akan melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya yang buruk. Hal ini berdampak pada perilaku negatif anak ketika dewasa akan menjadi 2 kali lebih besar daripada perilaku orang dewasa yang dicontohya dahulu.
Bukan hal yang tabu lagi jika lingkungan perkotaan adalah tempat yang kurang baik dalam hal pendidikan anak. Salah satu ciri lingkungan perkotaan ini adalah kondisi lingkungan yang mudah membuat stres penghuninya. Kondisi ini bisa berupa tingkat polutan yang tersebar di udara yang begitu besar, suhu udara akibat polusi, global warming bahkan kurangnya paru-paru kota sebagai pusat udara bersih kota. Banyaknya stresor ini membuat banyak penghuni wilayah perkotaan secara paksa mengubah perilakunya sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap lingkungan hidupnya. Buruknya perubahan ini adalah ketika perubahannya lebih mengarah pada hal negatif seperti sikap acuh terhadap orang lain maupun lingkungan. Sikap atau perilaku negatif penduduk ini akan sangat disesalkan ketika ditiru oleh anak-anak mereka nanti. Seorang anak yang tidak mengerti mana yang baik dan mana yang buruk akan secara mentah-mentah mengambil semua informasi yang ada di sekitarnya termasuk perilaku negatif tersebut.
Pendidikan
Pendidikan adalah hal yang selalu diutamakan dan dianggap penting oleh semua orang. Dengan pendidikan yang benar serta tingkat yang tinggi, orang akan memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi pula. Dengan pendidikan yang benar meski tingkatannya rendah juga sangat membantu anak nantinya dalam menjalankan hidup. Anak yang berpendidikan pasti nantinya akan memiliki moral yang baik (tingkat kedewasaan yang tinggi) serta mampu bermasyarakat dengan baik. Anak yang dididik dengan benar akan berhasil dan dapat hidup tanpa perlu dituntun terus menerus. Oleh karena itu, pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain (Haryanto, 2012). Dalam pemberian pertolongan ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, berikut pembagian macam-macam jenis pendidikan.
  1. Pendidikan Informal
    Pendidikan Informal adalah pendidikan yang didapat di dalam keluarga. Pendidikan Informal merupkan jenis pendidikan yang didapat pertama kali dalam kehidupan kita. Di dalam keluarga ini kita akan dididik oleh seluruh anggota keluarga yang ada di dalam ruang lingkup, baik Ibu, Ayah, Kakak ataupun Saudara yang lain (Paman, Bibi dan lain-lain). Contoh mudahnya adalah sewaktu kita masih kecil kita tidak tahu tentang apapun (informasi), kita akan bertanya kepada anggota keluarga dan diberikanlah beberapa penjelasan hingga kita dapat memahami informasi tersebut.
  2. Pendidikan Formal
    Pendidikan Formal adalah pendidikan yang didapat dari proses pembelajaran kita di sekolah dari kita SD, SMP, SMA dan perkuliahan. Ini merupakan pendidikan yang berpengaruh besar terhadap pendidikan kita selama ini karena pendidikan inilah yang selalu menjadi tolok ukur ketika kita akan melanjutkan sekolah, kerja bahkan ketika kita di dalam lingkungan bermasyarakat nanti. Contohnya pendidikan yang kita lakukan selama ini yang membuahkan ijazah tertentu akan menjadi syarat minimal ketika akan mendaftar kerja dan dengan tingkat ijazah kita ini akan membuat pandangan masyarakat terhadap kita berubah.
  3. Pendidikan Nonformal
    Pendidikan nonformal adalah suatu pendidikan diluar pendidikan formal seperti halnya kursus tetapi juga bisa diartikan pendidikan yang terjadi di lingkungan bermasyarakat. Di sini masyarakat akan mendidik secara tidak langsung terhadap individu (anak) tersebut. Ini dikarenakan proses pendidikannya berjalan sebagai pengalaman individu yang akan membentuk karakternya yang sebenarnya. Selain mendidik, masyarakat juga melakukan tindakan pengawasan terhadap individu tersebut. Contohnya seorang anak SD yang sedang bermain dengan teman-temannya hingga jam 10 lebih akan ditegur oleh masyarakat sekitar.
Pendidikan Masyarakat (Non Formal)
Pendidikan ini kita dapatkan dari kehidupan sosialisasi kita di masyarakat sekitar rumah kita. Dan biasanya pendidikan ini sangat berpengaruh besar dalam proses pembentukan karakter seorang individu. Namun tidak semua pendidikan dari masyarakat dapat berpengaruh besar dalam pembentukan karakter tersebut, hal ini sangat bergantung terhadap individu tersebut. Contoh seseorang yang mulanya baik tinggal di daerah pemukiman yang memiliki angka kriminalitas yang tinggi, maka sedikit banyak hal tersebut akan berpengaruh besar terhadap perilaku dari individu tersebut. Karena itulah masyarakat dikatakan pendidikan non formal. Segala aktivitas individu (siswa) di lingkungan masyarakat sedikit banyak akan berpengaruh terhadap belajarnya. Ada banyak kegiatan individu (siswa) di lingkungan bermasyarakat sebagai bentuk pembelajarannya. Berikut beberapa kegiatan yang dilakukan individu ketika bermasyarakat yang mempengaruhi belajar.
  1. Kegiatan individu (siswa) dalam masyarakat
Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak, misalnya berorganisasi, kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan dan lain-lain, belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.
  1. Mass media
Yang termasuk mass media adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik-komik dan lain-lain. Mass media yang baik memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya, akan tetapi sebaliknya mass media yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa. Maka dari itulah perlu kiranya siswa mendapatkan bimbingan dan kontrol yang cukup bijaksana dari pihak orang tua dan pendidik, baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat agar tidak terjadi salah langkah.
  1. Teman bergaul
Pengaruh-pengaruh dari teman bergaul siswa lebih dapat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga.
  1. Bentuk kehidupan masyarakat
Kehidupan masyarakat di sekitar siswa juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, penjudi, dan suka mencuri.
Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, dimana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.
Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer dalam Febriana A dan Agung S (2011) adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process.
Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial. Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial. Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan. Ciri Fisik, adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir yang meliputi jenis kelamin, usia, dan ras. Penampilan di sini dapat meliputi daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan wacana.
Masyarakat sebagai lembaga Pendidikan ketiga sesudah ke­luarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda de­ngan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya. Masalah pendidikan di keluarga dan sekolah tidak bisa mele­paskan dari nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Setiap masyarakat di manapun berada, tentu mempunyai karakteristik tersendiri sebagai norma khas dibidang sosial budaya yang berbeda dengan karakteristik masyarakat lain, namun juga mempunyai norma-norma yang universal dengan masyarakat pada umumnya.
Di masyarakat terdapat norma-norma sosial budaya yang harus diikuti oleh warganya dan norma-norma itu berpengaruh dalam pembentukan kepribadian warganya dalam bertindak dan bersikap. Norma-norma masyarakat yang berpengaruh tersebut sudah merupakan aturan-aturan yang ditularkan oleh generasi tua kepada generasi mudanya. Penularan-penularan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan ini sudah merupakan proses pen­didikan masyarakat.
Para tokoh agama atau tokoh masyarakat berperanan dalam penularan norma-norma masyarakat di samping orang tua kepada anak-anak tentang adat-istiadat atau tradisi atau sopan santun, baik dalam pertemuan-pertemuan resmi maupun dalam pergaulan sehari-hari. Umpamanya norma-norma yang boleh diperbuat, yang seharusnya diperbuat atau yang tabu diperbuat. Contoh tentang sopan santun orang Timur yang mengajar­kan/menentukan cara memberi sesuatu kepada, atau menerima sesuatu dari orang lain dengan tangan kanan.
Bagi orang Timur, menerima dan memberi dengan tangan kiri dinilai tidak sopan, tidak tahu aturan, dianggap menghina atau meremehkan. Hal demikian tidak berlaku bagi Orang Barat yang membolehkan menerima dan memberi dengan tangan kiri. Orang Timur menganjurkan untuk Baling menyapa sesamatetangga bila bertemu di jalan. Bagi Orang Barat sapaan seseorang ada yang menganggap sok ingin tahu urusan orang lain. Sesama masyarakat Indonesia pun antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, antara suku yang satu dengan suku yang lain, tidak sama dalam hal adat dan tradisi. Seperti adat suku‑suku di Jawa, adat suku-suku di Sumatra, adat-adat suku di Irian Jaya dan sebagainya dalam hal kelahiran, perkawinan dan kematian tidak sama. Masing-masing adat itu ditularkan kepada generasi berikutnya. Sekira ada perubahan adat dan tradisi oleh generasi berikut­nya dan perubahan itu menguat di masyarakat maka perubahanitulah yang kemudian ditularkan kepada generasi berikutnya.
Kelompok-kelompok masyarakat yang terdiri dari dua orang atau lebih dan bekerjasama di bidang tertentu untuk mencapai tujuan tertentu adalah merupakan sumber pendidikan bagi warga masyarakat, seperti Lembaga-lembaga sosial budaya, yayasan­-yayasan, organisasi-organisasi, perkumpulan-perkumpulan, yang kesemuanya itu merupakan unsur-unsur pelaksana asas pen­didikan masyarakat. Lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat seperti Lem­baga Dakwah, Lembaga Hukum, Lembaga Bahasa, Lembaga Pengabdian dan Lembaga-lembaga Sosial lainnya tidak sekedar menolong atau mencari keuntungan material, tetapi juga melakukan aktivitas-aktivitas dengan menyampaikan ajaran melatih ketrampilan dan menangani pengkaderan yang kesemuanya ber­peran dalam pembentukan sikap kepribadian orang-orang itu. Yayasan-yayasan yang ada dalam masyarakat banyak yang bergerak langsung di bidang pendidikan, seperti mendirikan sekolah-sekolah swasta, baik sekolah umum maupun sekolah agama, mulai tingkat Taman Kanak-Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi.
Pendidikan masyarakat adalah bagian integral pendidikan nasional yang mempunyai tugas melaksanakan pendidikan kepada masyarakat di luar sekolah. Pendidikan yang alami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampak lebih luas. Sebagaimana yang di kemukakan bahwa masyarakat yang merupakan lembaga ketiga sebagai lembaga pendidikan, dalam konteks menyelenggarakan pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, sebagai salah satu lingkungan terjadinya kegiatan pendidikan, masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat besar berlangsungnya segala aktivitas yang menyangkut masalah pendidikan.
Masyarakat juga memiliki peran terhadap pendidikan, yaitu:
1.        Masyarakat berperan serta dalam mendirikan dan membiayai sekolah .
2.        Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan agar sekolah tetap membantu dan mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat .
3.        Masyarakat ikut menyediakan berbagai sumber untuk sekolah.
4.        Masyarakat ikut menyediakan tempat pendidikan seperti gedung-gedung pembelajaran, musium, perpustakaan, panggung-panggung kesenian, dll.
5.        Masyarakat sebagai sumber pelajaran atau laboratorium tempat belajar.
Dengan demikian, jelas sekali bahwa peran masyarakat sangatlah besar terhadap pendidikan sekolah. Pendidikan selalu diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai kehidupan manusia. Didalam pengembangan nilai, tersirat pengertian manfaat yang ingin dicapai oleh manusia di dalam hidupnya. Jadi, apa yang ingin dikembangkan merupakan apa yang dapat dimanfaatkan dari arah pengembangan itu sendiri.
Pendidikan tidak bisa lepas dari efek-efek luar yang saling mempengaruhi keberadaanya, terutama bagi masyarakat sekitarnya, yang mempunyai hubungan saling ketergantungan. Dalam hal ini pengaruh masyarakat pada dasarnya tergantung pada luas tidaknya kualitas out put pendidikan itu sendiri. Semakin besar out put tersebut dengan disertai kualitas yang mantap, dalam artian mampu mencetak SDM yang berkualitas maka tentu saja pengaruhnya sangat positif bagi masyarakat.
Dengan demikian, bila lembaga pendidikan dimaksudkan mampu melahirkan produk-produknya yang berkualitas tentu saja hal ini merupakan investasi bagi penyedia SDM. Investasi ini sangat penting untuk perkembangan kemajuan masyarakat sebab manusia itu sendiri adalah subjek setiap perkembangan, perubahan, dan kemajuan dalam masyarakat.
Interaksi
Manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Hal ini sesuai dengan teori yang berkembang jika manusia adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain dalam hidup. Kebutuhan itulah yang dapat menimbulkan suatu proses interaksi sosial. Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok. Jadi dengan adanya alasan saling membutuhkan inilah muncul hubungan sosial yang merupakan interaksi sosial dalam hidup bermasyarakat. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Soerjono Soekanto dalam Haryanto (2011), proses sosial diartikan sebagai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika individu dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu serta menentukan sistem dan bentuk hubungan sosial.
Kota
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri RI No. 4 tahun 1980 dalam Fitriah Arniasi, dkk menyebutkan bahwa kota dapat dibagi ke dalam dua pengertian, yaitu pertama, kota sebagai suatu wadah yang memiliki batasan administrasi sebagaimana diatur dalam perundang-undangan. Kedua, kota sebagai suatu lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris, misalnya Ibukota Kabupaten, Ibukota Kecamatan, dan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan dan pemukiman.
Pengertian kota dan daerah perkotaan dapat dibedakan dalam dua pengertian yaitu kota untuk city dan daerah perkotaan untuk ‘’urban”. Pengertian city diidentikkan dengan kota, sedangkan urban berupa suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan penghidupan modern, dapat disebut daerah perkotaan. Menurut Luis Wirth dalam Jamal (2013) Kota adalah pemukiman yang relatif besar, padat, dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
Para pendiri kota memiliki maksud untuk mengembangkan kegiatan niaga kelautan di dalam pemukimannya ,yaitu sebagai tempat pertukaran barang antara daerah daratan dengan lautan. Sebaliknya, kota- kota di dunia keadaanya beragam ada berpenduduk jarang dan padat. Kota-kota yang mengalami kehidupan dengan kondisi sosial politik, keagamaan, dan budaya yang berbeda-beda mempunyai beberapa unsur eksternal yang menonjol sehingga mempengaruhi perkembangan kota. Dengan semakin heterogennya masyarakat serta kedudukan sosialnya akan semakin membuat kurangnya rasa satu kesatuan di masyarakat tersebut. Berikut garis besar ciri dari masyarakat perkotaan.
Ciri-ciri Masyarakat Kota
1.      Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan desa. Kegiatan-kegiatan keagamaan hanya berada di tempat-tempat peribadatan. Kehidupan kota berada dalam lingkungan ekonomi, perdagangan.
2.      Masyarakat kota umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang terpenting adalah manusia Individu di kota kehidupan keluarga sering sulit disatukan, itu dikarenakan memiliki kepentingan yang berbeda.
3.      Pembagian kerja di wilayah kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4.      Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan lebih banyak diperoleh oleh masyarakat kota daripada desa.
5.      Jalan pikiran biasanya rasional, menyebabkan interaksi-interaksi yang lebih di dasarkan pada faktor kepentingan pribadi
6.      Waktu sangat diperhatikan
7.      Perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dengan menerima pengaruh dari luar. Hal ini menimbulkan pertentangan antara golongan tua dengan golongan muda. Oleh karena itu golongan muda belum sepenuhnya kepribadiannya terbentuk.
Permasalahan Yang Biasa Terjadi Di Lingkungan Perkotaan
  1. Kesehatan Kaum Marjinal
Kesehatan masyarakat marjinal merupakan masalah besar yang harus ditangani. Kaum marjinal merupakan orang-orang yang terpinggirkan karena kalah bersaing dengan kaum elit. Mereka kebanyakan tinggal di perkampungan kumuh, sumpek dan jauh dengan sanitasi yang buruk. Tentu mereka bermasalah dengan kesehatannya. Perlu penanganan dari pemerintah daerah hingga menjadi program pembangunan kota.
  1. Pencemaran/Polusi
Di kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya. Mempunyai masalah besar berupa pencemaran lingkungan. Polusi udara masuk dalam rangking tertinggi daftar masalah lingkungan hidup, kemudian polusi air dan sampah. Kemudian dengan berbagai masalah lingkungan hidup ini akan berdampak langsung pada tingkat kesehatan masyarakat di kota tersebut.
  1. Urbanisasi
Setiap tahun ribuan orang datang ke kota besar untuk mengadu nasib. Kota besar menjadi oase yang menarik perhatian orang daerah untuk dijadikan tempat usaha. Padahal kehidupan di kota metropolitan persaingan sangat ketat. Orang yang tersisih dari persaingan inilah yang berpotensi menimbulkan masalah besar. Ratusan hingga ribuan orang yang gagal mengadu nasib hanya akan mendapat 2 pilihan, kembali ke rumah di daerah atau tetap di kota tetapi menjadi gelandangan.
Perilaku Individualis sebagai Akibat Sifat Kehidupan Kota
Kesibukan setiap warga kota dalam tempo yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatian terhadap sesamanya. Apabila hal ini berlebihan akan menimbulkan sifat acuh tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial. Dengan adanya fenomena ini dan melihat sifat kehidupan kota yang cenderung kepada kondisi: 1) heterogenitas, jumlah dan kepadatan penduduk yang cukup tinggi, 2) sifat kompetitif, egosentris dan hubungan personal berdasarkan kepentingan pribadi dan keuntungan secara ekonomi, masyarakat kota cenderung menyikapi kondisi tersebut dengan cara:
a.             Hanya saling mengenal terutama dalam satu peranannya saja, misalnya sebagai kondektur, penjaga toko dan sebagainya. Oleh karena itu juga dikatakan bahwa sifat hubungan-personal masyarakat kota tidak bersifat primer, namun lebih bersifat sekunder (berdasarkan peran dan atributnya).
b.            Melindungi diri sendiri secara berlebihan agar tidak terjadi terlalu banyak hubungan-hubungan yang sifatnya pribadi, mengingat konsekuensi waktu, tenaga dan biaya. Orang kota juga harus melindungi dan membatasi diri terhadap relasi yang dianggap potensial membahayakan baginya. Akibatnya ialah seringnya terjadi kontak personal yang ditandai oleh semacam reserve, acuh tak acuh dan kecurigaan.
c.             Cenderung mengadakan kontak, personal bukan dengan keinginan yang berlandaskan kepentingan bersama, namun kebanyakan hubungan itu hanya digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan dan kepentingan masing-masing individu.
Perwujudan Perilaku Individualis Masyarakat Kota
Perilaku Individualis pada masyarakat kota secara umum bisa dibedakan dalam 2 aspek, yaitu perwujudan dalam ungkapan fisik (spasial, material dan bentuk), serta perwujudan dalam sikap dan perilakunya. Kedua aspek tersebut bersama-sama mengupayakan suatu “pertahanan” atau “perlawanan” terhadap kondisi kehidupan kota.

Perwujudan Perilaku Individualis Dalam Ungkapan Fisik
Perilaku individualis masyarakat kota cenderung akan tercermin atau diungkapkan dalam suatu ungkapan fisik yang berupa batas ruang (territory) atau ungkapan bentuk. Ungkapan fisik yang berupa batas ruang (territory) bisa bersifat tetap atau suatu kondisi yang relatif tidak berubah-ubah, namun bisa juga bersifat tidak tetap. Ini sejalan dengan pendapat Lang dalam Sumardjito, bahwa teritorialitas adalah salah satu perwujudan ego yang tidak ingin diganggu, dan merupakan perwujudan dan privasi. Yang perlu diperhatikan adalah, apabila keinginan perwujudan privasi ini sangat berlebihan, hal ini merupakan indikasi dari sikap dan perilaku individualis.
Beberapa contoh ungkapan fisik sebagai perwujudan perilaku individualis pada masyarakat kota yaitu:
1.            Pemasangan pagar halaman depan yang dibuat sangat tinggi dan masif, mencerminkan ketertutupan, kecurigaan, kehati-hatian dan kurangnya “welcome” terhadap tamu yang akan berkunjung.
2.            Perwujudan bentuk-bentuk bangunan yang tidak selaras dengan lingkungan, hanya karena untuk memenuhi ego pemilik supaya tidak disamakan atau tidak ingin sama dengan lingkungannya, dalam arti supaya dianggap lebih tinggi derajatnya dari lingkungan tersebut.
3.            Tulisan-tulisan atau tanda-tanda petunjuk yang mempunyai indikasi untuk menunjukkan bahwa sesuatu area adalah milik pribadi, bukan untuk masyarakat umum sehingga masyarakat umum tidak boleh masuk area tersebut, atau setidak-tidaknya enggan untuk memasuki mengingat risiko yang mungkin timbul.





Perwujudan Perilaku Individualis Dalam Sikap dan Perilaku
Perilaku individualis selain diwujudkan dalam ungkapan fisik, juga banyak didapati pada sikap dan perilaku masyarakat kota. Hal ini bisa dilihat dari beberapa contoh:
1.            Kurang akrabnya antar tetangga pada suatu kompleks perumahan atau perkampungan, karena masing-masing orang telah sibuk dengan urusannya sendiri.
2.            Masing-masing tetangga merasa tidak perlu menyapa apabila bertemu di jalan, karena merasa tetangga tersebut adalah orang asing bagi orang tersebut. Kemungkinan lain dan kondisi tersebut adalah tidak terpikirkannya orang tersebut untuk menyapa, karena pikirannya memang sudah dipenuhi dengan berbagai kesibukan kerja hari itu.
3.            Kurangnya tenggang rasa dalam bersikap dan berbuat.

Kesimpulan
Pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain. Kemudian pendidikan Non-Formal adalah suatu pendidikan diluar pendidikan formal seperti halnya kursus tetapi juga bisa diartikan pendidikan yang terjadi di lingkungan bermasyarakat, di sini masyarakat berperan ganda sebagai pengawas juga. Dalam hal ini pastilah semua masyarakatnya akan melakukan interaksi dalam melakukan pendidikan. Proses interaksi dalam melaksanakan pendidikan ini juga berlaku pada lingkungan perkotaan. Kota yang merupakan pemukiman padat dan dihuni oleh orang-orang yang heterogen akan mendapat hasil pembelajaran yang heterogen pula.  
Saran
 Dari segala dampak yang ada, bisa disimpulkan hal ini terjadi akibat begitu besarnya tingkat heterogenitas yang terjadi pada masyarakat kota dan jumlahnya yang melebihi batas. Dengan jumlahnya yang melebihi batas akan menambah pula tingkat kompetitif mereka dan berakhir pada berbagai perilaku negatif untuk mencapai tujuan. Dengan begitu sebaiknya proses urbanisasi sedikit ditahan oleh pemerintah dengan hanya memberikan waktu tertentu untuk mengembalikan lagi pengadu nasib di kota untuk pulang ke tempat asalnya. Kemudian juga bisa dengan penegakkan hukum yang lebih tegas terhadap perilaku negatif seperti membuang sampah sembarangan agar tidak memicu berbagai permasalahan lain.


DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2012. Interaksi Sosial Masyarakat, (Online), (http://makalah-update.blogspot.com/2012/12/interaksi-sosial-masyarakat.html), diakses tanggal 17 Maret 2015.
Ardiansa F dan Setiawan A. 2011. Dinamika Interaksi Sosial dan Dilema Kepentingan Individu dan Sosial, (Online), (https://4gungseti4w4n.wordpress.com/2011/03/24/dinamika-interaksi-sosial-dan-dilema-kepentingan-individu-dan-sosial/), diakses tanggal 17 Maret 2015.
Arniasih F, dkk. 2013. Makalah IPS, (Online), (http://fitriarnie.blogspot.com/ 2013/01/makalah-ips.html), diakses tanggal 18 Maret 2015.
Haryanto. 2011. Pengertian Interaksi Sosial, (Online), (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/), diakses tanggal 17 Maret 2015.
Haryanto. 2012. Interaksi Sosial Masyarakat, (Online), (http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-menurut-ahli/), diakses tanggal 16 Maret 2015.
Jamal, Delsy. 2013. Pengertian atau Definisi Kota, (Online), (http://simplenews05.blogspot.com/2013/10/pengertian-atau-definisi-kota.html), diakses tanggal 16 Maret 2015.
Sumardjito. -. PERMASALAHAN PERKOTAAN DAN KECENDERUNGAN PERILAKU INDIVIDUALIS PENDUDUKNYA, (Online), (staff.uny.ac.id/sites/default/files/131873964/MAKALAH%20Cakrawala%20penddk%20;PERMASALAHAN%20PERKOTAAN.doc), diakses tanggal 18 Maret 2015.

No comments:

Post a Comment